Friday, February 12, 2010

Larangan merayakan valentine,

Karena:

Perayaan Valentine’s Say adalah Bagian dari Syiar Agama Nasrani

Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah yang kita dapat menunjukkan bahwa perayaan itu bagian dari simbol agama Nasrani.

Bahkan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal ari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).

Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno. Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama. Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.

Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.

Valentine Berasal dari Budaya Syirik.

Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.

Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.

Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.

Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.

Semangat valentine adalah Semangat Berzina

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.

Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.

Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.

Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?

Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.

Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah SWT berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Isra’: 32). (islamic-center.or.id)

Thursday, January 21, 2010

Adab dan akhlak menuntut ilmu
a. Niat
Niat dalam menuntut ilmu adalah untuk mencari ridha Allah. Hendaknya diiringi dengan hati yang ikhlas karena Allah, bukan untuk menyombongkan diri tapi untuk mengeluarkan diri dari kebodohan dan menjadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain
b. Bersungguh-sungguh
Dalam menuntut ilmu harus bersungguh-sungguh, seperti dalam firmanNya, “Dan orong-orang yang berjuang di jalan Kami pastilah akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami.”
c. Terus-menerus
Hendaklah kita jangan mudah puas atas ilmu yang kita dapatkan sehingga kita enggan enggan untuk mencari lebih banyak lagi. Allah lebih menyukai amalan yang sedikit tapi dilakukan secara terus-menerus disbanding amalan yang banyak tapi hanya dilakukan sekali saja.
d. Sabar dalam menuntut ilmu
Kesabaran terpuji dapat kita tiru dari kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS dalam QS Al Kahfi 66-70. Dalam menuntut ilmu, kita juga tidak boleh mudah berputus asa, karena Allah tidak menyukai orang yang berputus asa (Q.S. Al Hijr 56)
e. Menghormati dan memuliakan orang yang menyampaikan ilmu kepada kita
Diantara penghormatan murid terhadap gurunya adalah berdiam diri maupun bertanya pada saat yang tepat dan tidak memotong pembicaraan guru, mendengarkan dengan khidmat, memperhati-kan ketika beliau menerangkan, dll.
f. Baik dalam bertanya
Bertanya hendaknya untuk menghilangkan keraguan dan kebodohan kita, bukan untuk meremehkan, menjebak, mengetes, mempermalukan guru kita, dll. Orang yang tidak mau bertanya berarti menyia-nyiakan ilmu yang banyak bagi dirinya sendiri. Allah memerintahkan kita untuk bertanya pada orang yang berilmu (Q.S. An Nahl 43)


Pengaruh Ilmu Terhadap Iman dan akhlak
1. Ilmu memberi petunjuk kepada iman.
Ilmu dan Iman berjalan beriringan dalam Islam (QS. 30 : 36; 58 : 11). Bahkan al-Qur’an menyertakan iman kepada ilmu seseorang mengetahui lalu beriman. Dengan kata lain tidak ada iman sebelum ada ilmu (QS. 22 : 54; 34 : 6)
2. Ilmu adalah penuntun amal
Ilmulah yang menuntun, menunjuki dan membimbing seseorang kepada amal (QS. 47 : 19). Ayat ini dimulai dengan ilmu tentang tauhid lalu disusul dengan permohonan ampun yang merupakan amal. Ilmu juga merupakan timbangan/penentu dalam penerimaan atau penolakan amal. Amal yang sesuai dengan ilmu adalah amal yang diterima, sedangkan amal yang bertentangan dengan ilmu adalah amal yang tertolak (QS. 5 : 27). Maksud ayat ini ialah Allah hanya menerima amal seseorang yang bertakwa kepada-Nya. Jadi amal tersebut harus dilakukan karena keridoan-Nya dan sesuai dengan perintah-Nya. Hal ini hanya bisa dicapai dengan ilmu.
Untuk dapat berakhlak baik pun salah satunya harus dicapai dengan ilmu. Imam Ghazali berkata : “Muqadimah agama dan berakhlak dengan akhlak para nabi tercapai diramu dengan 3 dimensi yang tersusun rapi, yaitu : ilmu, perilaku dan amal” (ilmu mewariskan perilaku, perilaku mendorong amal).
3. Kelebihan ilmu dari ibadah
Dalam hadits Huzaifah dan Sa’ad, Rasulullah SAW bersabda, “Kelebihan Ilmu lebih kusukai dari kelebihan ibadah, dan sebaik-baik agama adalah al-wara. “Ilmu dilebihkan atas ibadah sebab manfaat ilmu tidak terbatas pada pemiliknya melainkan juga untuk orang lain. Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dalam al-Miftah menyebutkan diantarnya : “Ilmu menunjukkan kepada pemiliknya amal-amal yang utama di sisi Allah.”

Al Qur’an memberikan inspirasi bagi pengembangan Ilmu pengetahuan
- QS. 25 : 53 (Kimia)
- QS. 27 : 87-88 (Geografi)
- QS. 13 : 1 (Sipil)
- QS. 10 : 101 (Atom)
- QS. 55: 33 (Astronomi)
- QS. 22:5 (Kedokteran)
- QS. 89 : 1-3 (Matematika)


Adab dan akhlak terhadap guru

Di antara akhlak mereka adalah adab sopan santun yang mereka lakukan terhadap orang yang pernah mengajar mereka surah Al Qur’an atau ayat. Mereka tetap menghormati orang yang pernah mengajari surah Al Qur’an atau ayat atau pengetahuan tertentu, sampai mereka tidak mau lewat di depannya dengan menaiki kendaraan, meskipun mereka sudah menjadi tokoh besar Islam atau tokoh sufi.

Di antara adab yang mereka pelihara kepada guru adalah kebisaaan mereka memberi hadiah dan pakaian kepada mereka dan keluarga sebagai penghormatan kepada mereka. Begitu pula mereka tidak kikir kepada guru agama yang mengajari anak-anak mereka Al Qur’an tanpa mengharapkan balasan atas pemberian yang mereka lakukan.

Dikisahkan tentang Ibnu Abi Zaid al Qalrawani, penulis besar ar-Risalah, bahwasanya ia memberi guru agama anaknya ketika ia mengajar satu hizib Al Qur’an sebesar seratus dinar. Lalu guru agama itu berkata: “Aku, wahai sayyidi, tidak melakukan sesuatu yang patut diberi ini semua!” Lalu Syaikh guru agama itu mengalihkan anak didiknya itu kepada guru agama yang lain dan berkata: “Ini seorang laki-laki yang merendahkan Al-Qur’an.” (saya mengatakan) Aku pernah melakukan demikian, alhamdulillah, dengan guru agamaku, Syaikh Hambali al-Halabi memberinya pakaian dan juga anak-anaknya hingga ia meninggal dunia. Saya tidak memandang bahwa saya telah melakukan suatu kewajiban atas haknya.
Suatu hari saya lewat bersama Syaikh Syamsuddin ad Dimyathi pada tahun 918 H. Lalu Syaikh Syamsuddin bertemu dengan seorang laki-laki buta dituntun putrinya. Ia kemudian turun dari kudanya dan meraih tangannya seraya menuntun jalan hingga jauh.

Ketika kembali saya bertanya siapa orang itu? ia menjawab bahwa ia adalah laki-laki yang pernah mengajarinya Al Qur’an pada masa anak-anak. Maka ia tidak berkenan lewat dengan menunggang kuda. Padahal Syaikh Syamsuddin telah memperoleh pangkat, kepercayaan, ilmu dan dekat dengan para raja dan ia sangat istimewa. Belum pernah kami melihat seseorang yang memperoleh karunia seperti dia di antara teman-teman sejawatnya sehingga saya pernah melihatnya sedang berada di antara dua istana pada suatu hari dikerumuni orang banyak berebut untuk mencium tangannya, dia yang tidak dapat mendekat mencoba melemparkan selendangnya hingga mengenai pakaiannya lalu mencium selendang itu seperti yang dilakukan orang terhadap kiswahh kabah ketika dibawa di Kairo.

Mengalah dan Rendah Hati
Diantara akhlak mereka Adalah sikap sangat mengalah hingga diantara mereka ada yang mencari barakah dari muridnya dan membawakan bawaan serta tidak memandangnya lebih mengetahui dari pada muridnya atau merasa lebih banyak amalnya, bilamana yang demikian itu tidak menimbulkan fitnah.

Dikisahkan bahwa Imam Syafi’i (ra) ketika mengutus utusannya kepada Imam Ahmad bin Hanbal bahwa ia akan mengalami cobaan besar dan akan bebas dari cobaan itu dalam keadaan selamat, yakni masalah apakah al-Qur’an makhluk atau bukan. Lalu ketika utusan itu memberitahukan kepadanya, Imam Ahmad bin Hanbal melepas gamisnya karena bahagia dengan kehadiran utusan Imam Syafi’i. Ketika utusan itu kembali dengan membawa gamis itu dan memberitahukan kepada Imam Syafi’i, ia bertanya: “Apakah gamis ini dilepas dari tubuhnya tanpa pakaian dalam?” Ia menjawab: “Ya benar” Lalu Imam Syafi’i mencium gamis itu dan dia tutupkan pada kedua matanya. Lalu ia basahi dengan air kedalam tabung dan menggilasnya lalu memerasnya. Aimya kemudian dimasukkan ke dalam botol untuk mengobati para sahabatnya yang sakit dengan cara mengoleskan air itu pada tubuhnya dan berkat pertolongan Allah mereka segera sembuh.

Patut direnungkan bagaimana kerendahan hati Imam Syafi’i terhadap muridnya, Imam Ahmad bin Hanbal. Yang demikian menunjukkan bahwa orang seperti ini meskipun amal shalihnya yang begitu banyak tidak membuat mereka memandang diri mereka sendiri lebih dari orang lain. Berbeda dengan orang orang yang mengaku diri syaikh di zaman sekarang. Orang terakhir yang saya ketahui mengalah dan mencari berkah dari muridnya serta mengirim orang sakit agar berobat padanya adalah Syaikh Muhammad bin Annan dan Syaikh Muhammad as Sarawi.

Syaikh Muhammad bin Annan suka mengirim orang yang menginginkan doa untuk orang yang sakit kepada Syaikh Yusuf al Haritsi. Syaikh Muhammad as Sarawi mengirim utusan kepada Syaikh Ali al Haddad padahal Syaikh Yusuf dan Syaikh Ali adalah murid kedua Syaikh ini.

Lembut dan Santun
Dalam hadits terdapat perintah untuk meluruskan shaf jamaah shalat dan bersikap lembut terhadap sesama.

Dalam al Qur’an juga terdapat peringatan, Firman Allah SWT:
“Jika kiranya kamu bersikap kasar dan keras hati tentu mereka lari dari sekelilingmu.” (Ali Imran : 59).

Ketahuilah bahwa termasuk bagian dari sikap lembut terhadap orang orang fakir (para ahli sufi) adalah apabila masuk dalam kelompok yang sedang berdzikir pada Allah (SWT) seperti dzikir kaum Maghribah, Syanawiyah, Rifa’iyah umpamanya, maka hendaknya ikut berdzikir bersama mereka dengan cara seperti yang mereka lakukan sesuai aturan syara’.
Maka sebaiknya juga menyesuaikan dengan dzikir yang mereka ajarkan, yang dibolehkan dan yang jarang oleh mereka, tanpa menolak dengan alasan bahwa yang demikian bukan thariqat Syaikh Anda. Dengan demikian akan kehilangan pahala di samping terjebak dalam sikap kaku dan keras.

Membiarkan Lapar
Di antara akhlak mereka adalah lapar dengan jalan yang sesuai dengan syara’. Bilamana mereka tidak mendapatkan sesuatu yang halal untuk mereka makan, maka berhari-hari mereka menahan lapar. Pengalaman lapar ini telah mereka rasakan lalu menemukan cahaya batin dan kebaikan pada kekosongan perut hingga mereka mengatakan dalam pepatah: “Pada beduk terdapat suara keras hanya karena kosong dalamnya.”
Mereka juga mengatakan bahwa seharusnya bagi orang alim tidak kenyang apalagi di hari-hari ia menulis kitab. Yang demikian itu agar ia tidak terhalang dari kesempumaan pemahaman Al-Quran, hadits, fiqih dan lain sebagainya. Sebab pemahaman orang kenyang itu lemah. Jika ada yang ragu mengenai ini, silahkan mencoba.

Kami pernah menemukan banyak orang fakir (ahli sufi) membisaakan lapar hingga di antara mereka ada yang berbuang hajat besar hanya sekali dalam satu minggu, karena malu terhadap Allah (SWT) jika banyak pergi ke kamar kecil dalam keadaan terbuka auratnya.

Bahkan yang lebih dari itu, Syaikh Tajuddin ad-Dzakir mengambil air wudhu hanya pada setiap dua belas hari sekali. Sayidi Ali asy-Syahawi, yang dikenal dengan Dzuaib mengajak semua orang yang ia temui untuk berpuasa dan mengatakan bahwa puasa adalah senjata orang mukmin, dan jika orang yang ahli berpuasa tidak mentaati Allah, ia tidak melakukan maksiat terhadapNya karena tidak ada dorongan yang mengajak kepada kemaksiatan. Di antara orang yang berpuasa sepanjang tahun adalah Syaikh Umar at-Tabtiti dan anak pamannya Syaikh Abdul Qadir. Keduanya sangat tinggi nuraninya dan kemauannya. Ikutilah jejak orang-orang terdahulu dan hendaknya tidak makan kecuali jika sangat lapar.

Tetap Ikhlas memberi Ilmu
Di antara akhlak mereka adalah bahwa jika ada orang yang tidak sepenuh hati belajar ilmu dari mereka, mereka tetap mengajamya akan tetapi senantiasa menghadap kepada Allah (SWT) dalam doa agar niatnya ikhlas. Dengan demikian mereka mendapat pahala dan ia begitu pula.

Sebab ilmu untuk dua hal: diamalkan dan menghidupkan syariah. Maka pemiliknya diberi pahala baik secara penuh maupun tidak penuh.
Syaikh Ali al-Khawwash berkata: “Pembawa ilmu itu mengamalkan ilmunya meskipun melakukan maksiat, karena jika itu terjadi ia bertobat dan menyesali sesuai ilmu yang ia ketahui. Seandainya bukan karena ilmunya itu tentu ia tidak tahu jalan bertobat dan menyesali.

Inilah pengamalan ilmu dari sisi ini. Jika orang yang melakukan maksiat tidak mengamalkan ilmunya, sebagaimana anggapan orang, maka ketahuilah bahwa ilmu itu bermanfaat bagi pemiliknya bagaimana pun, dan ilmu setiap orang tetap lebih banyak dari pada amalnya di setiap masa.”

Tekad mengamalkan Ilmu
Di antara akhlak mereka adalah tekad mengamalkan ilmu semua orang alim yang mereka ketahui, tidak memperhatikan apakah orang alim itu mengamalkan ilmunya atau tidak.
Kemudian menjadikan pahala amal itu dalam catatan amal orang alim ini dan mereka memohon pahala dari Allah (SWT) sebagai karunia dan kemurahan.
Begitu pula bilamana membaca suatu ilmu mereka menjadikan pahalanya untuk pengarangnya, karena pahala setiap perkataan adalah untuk penuturnya.
Yang demikian tidak mungkin tercapai kecuali orang yang lebih mengutamakan orang-orang mukmin dari pada dirinya sendiri, sebagai peninggalan Rasulullah (SAW), sebagaimana yang kami bahas dalam kitab al-Minan at-Kubra.

Tetap Bergaul dengan Orang yang Memusuhinya
Di antara akhlak mereka adalah bergaul dengan orang yang secara diam-diam memusuhi tetapi menampakkan diri menyukai mereka. Mereka juga tidak menolak sama sekali terhadap orang yang ingin dekat kepada mereka.

Sebab jika ditolak yang demikian akan dapat menimbulkan fitnah dan menambah permusuhan. Akan tetapi ini membutuhkan kewaspadaan terhadap pelanggaran sebab bisa jadi orang yang tidak senang akan secara sengaja sedang mencari keburukan agar dapat dijadikan bahan untuk menjatuhkan mereka, sebagaimana yang banyak terjadi.

Oleh sebab itu bergaul dengan orang yang tidak dalam hatinya tidak menyukai harus bersikap waspada, sebab jauh dari musuh lebih baik bagi orang yang tidak memiliki kesempurnaan perilaku dan lemah agama. Sadarilah yang demikian.

Melihat Atas Kebaikan dan Menutupi Keburukan Orang lain
Di antara akhlak mereka adalah membuka mata lebar lebar atas kebaikan orang dan menutup mata rapat rapat atas kekurangan yang ada padanya. Maka Di antara mereka ada yang sama sekali tidak mau melihat aib saudara seagamanya sedikit pun dan semua orang baginya salih dan orang salih tidak ada yang memusuhi kecuali hanya karena iri dan dengki.

Jika dikatakan bahwa yang mempunyai kedudukan ini atau itu sedikit manfaatnya bagi teman-temannya karena tidak memberi nasihat dan peringatan dan kemungkaran lalu dengan demikian menjadi pelaku maksiat terus menerus dan tidak tertuntun untuk memberi peringatan, karena semua orang dianggap baik, maka jawabnya adalah bahwa ia memberi peringatan karena semua orang dianggap baik, maka jawabnya adalah bahwa ia memberi peringatan dengan ilham yang benar melalui berkaca diri atau dengan mengaitkan itu dengan dirinya sendiri dan berkata: “Sebagaimana aku juga melakukan pelanggaran umpamanya orang lain juga dapat berbuat salah. Semua kesalahan yang bisa terjadi pada diriku dapat terjadi pula pada orang lain.”

Sementara dimaklumi di kalangan mereka bahwa menyebutkan kekurangan saudara mereka tidak lain adalah peringatan, bukan menganggap mereka bebas dari kesalahan seperti ini. Sebab orang yang sempurna di kalangan mereka dijuluki Abul Uyun, “maka segala sesuatu ada mata yang melihatnya, lalu ia memandang saudaranya lepas dari kekurangan seperi riya’ dan kemunafikan atau lain lainnya dengan satu mata. ia menyikapi dengan hati hati seperti kehati hatian orang yang benar menuduhnya dengan kekurangan-kekurangan itu atau perkiraan dengan mata yang lain.

Saturday, January 16, 2010

Agenda Liburan

Jumat,1 Januari 2010-Sabtu,2 Januari 2010 :
07.30-08.00: Bangun tidur dan dilanjutkan dengan membersihkan kamar
08.00-08.15: Mandi pagi
08.15-08.30: Makan pagi
08.30-10.00: Nonton kartun dengan adik
10.00-13.00: Bermain permainan di dalam laptop dan dilanjutkan dengan sholat Zuhur
13.00-13.30: Makan siang bersama keluarga
13.30-15.30: Nonton bersama keluarga
15.30-15.45: Sholat Asar berjamaah
15.45-17.00: Tidur siang
17.00-17.15: Mandi sore
17.15-18.00: Nonton berita
18.00-18.15: Sholat maghrib berjamaah
19.00-19.30: Makan bersama
19.30-21.00: nonton, berkumpul, dan bercerita bersama keluarga
21.00-07.30: Tidur,,,,


Minggu,03 Januari 2010
07.30-08.00: Bangun tidur dan dilanjutkan dengan membersihkan kamar
08.00-08.15: Mandi pagi
08.15-0830: Makan pagi
08.30-10.00: Nonton kartun dengan adik
10.00-15.30: jalan-jalan bareng keluarga
15.30-15.45: Sholat Asar berjamaah
15.45-17.00: Tidur siang
17.00-17.15: Mandi sore
17.15-18.00: Nonton berita
18.00-18.15: Sholat maghrib berjamaah
19.00-19.30: Makan bersama
19.30-21.00: nonton, berkumpul, dan bercerita bersama keluarga
21.00-07.30: Tidur,,,,

Senin,04 Januari 2010-Minggu,10 Januari 2010
07.30-08.00: Bangun tidur dan dilanjutkan dengan membersihkan kamar
08.00-08.15: Mandi pagi
08.15-08.30: Makan pagi
08.30-10.00: Nonton kartun dengan adik
10.00-13.00: Bermain permainan di dalam laptop dan dilanjutkan dengan sholat Zuhur
13.00-13.30: Makan siang bersama keluarga
13.30-15.30: Nonton bersama keluarga
15.30-15.45: Sholat Asar berjamaah
15.45-17.00: Tidur siang
17.00-17.15: Mandi sore
17.15-18.00: Nonton berita
18.00-18.15: Sholat maghrib berjamaah
19.00-19.30: Makan bersama
19.30-21.00: nonton, berkumpul, dan bercerita bersama keluarga
21.00-07.30: Tidur,,,,

Wednesday, December 2, 2009

biodata

nama:putri imanda
kelas:92
alamat:jl.sukabakti no.194 rt04 rw01

fs:putri92_smp19@yahoo.com

fb:nGeDh_qHu@yahoo.co.id

e-mail:putri92_smp19@yahoo.com

Tuesday, November 24, 2009

Saya : Putri ImandA
Mengucapkan "SELAMAT HARI GURU"
ENGKAU LAH GURU YANG PAHLAWAN TANPA JASA

Wednesday, November 11, 2009

aloha,,,,,
medh datang di my blog,,,,
putri imanda 9.2